Selasa, 22 Juli 2014

Menjelang Sang Malam Impian

Ramadhan semakin tua
Semakin dekat waktu baginya beringsut dan beristirahat
Banyak hal indah yang akan pergi bersamanya
Banyak pahala mudah yang akan dibawanya
Apa yang sudah kita lakukan...?
Sepuluh hari pertama sibuk membuat jadwal mengejar target, atau merasakan kesusahan tiada tara menahan haus dan lapar yang tidak biasa...tenaaang masih ada 20 hari di depan
Sepuluh hari kedua tekun mencari waktu luang menyelesaikan segala suruhan dan perintah penguasa yang kasat mata, sehingga tertinggal amalan yang dinantikan Sang Maha Penguasa... tidak masalah karena masih ada 10 hari yang bisa dimanfaatkan
Sepuluh hari terakhir daya sudah pudar dengan tuntutan duniawi tiada akhir, jalanan semakin macet tak berbentuk, parkiran mall semakin penuh hingga perlu berputar berpuluh kali melebihi banyaknya putaran thawaf, kantong yang menebal menggapai-gapai minta dihabiskan, kantong belanjaan menenggelamkan telapak tangan dan jari jemari yang seharusnya terangkat menengadah memohon ampun kepada Sang Maha Pemberi Rizki...
10 hari terakhir segera lenyap untuk berganti..
Masihkah belum cukup nikmat yang diberikan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sehingga begitu berat bagi kita menyisihkan sedikit waktu meraih pahala yang lebih besar berkali lipat saat hanya dengan terlelap...??
Hanya Ramadhan yang datang dengan 3 hal yang pasti
10 hari pertama dibawanya Rahmah
10 hari kedua disertakannya Maghfirah (ampunan)
10 hari terakhir dengan 'Itqun Minan Naar (pembebasan dari api neraka)
Semua hanya dengan kemudahan dengan menyebut namaNya, mengingatNya, bersujud kepadaNya, berkunjung ke rumahNya, bermuhasabah memohon ampunanNya, membersihkan diri dan hati
Bahkan dalam 10 hari terakhir pun masjid tidak kau tengok karena esok hari masih harus ngebut menyelesaikan tugas sebelum libur
Padahal ada kebaikan yang melebihi 1000 bulan di dalamnya yang tidak seorangpun tahu kapan datangnya
Dia hanya memberi tanda kepadamu untuk berpaling kembali kepadaNya setelah kau nikmati segala pemberianNya

"Ampuni kami ya Allaah...hanya Engkau yang Maha Pemberi, berikanlah kami ampunanMu...hanya Engkau yang Mha Pengasih, kasihilah kami di dunia dan akhirat... Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin"

*muhasabah diri pada 26 Ramadhan

Minggu, 30 Maret 2014

Bund, PERKOSA itu apa sih..?

Suatu hari dalam perjalanan menuju rumah Angku saat anakku masih di TK dan baru bisa membaca...
Kejadian di suatu perempatan traffic light antara Duren Sawit dan Kalibata Timur...saat itu lampu sedang menyala merah sehingga Bunda (baca: Aku) langsung ambil gadget dan segera menyelam di keasyikan ber-bbm dan browsing ria...
Tiba2 suara kecil agak cadel yang menggemaskan menguak dari diam...
Reza (R) : Bund...Bund...
Aku (A) : - sambil tetap memandang gadget - Yaaa...knapa Re..?
R : - dengan nada datar tanpa heboh - PERKOSA itu artinya apa sih..?
A : - berasa keserempet petir tanpa mendung apalagi hujan tapi berusaha sok "kewl" supaya ga kliatan setengah mati karena shock, ambil nafas sambil meredakan deg2an yang tiba2 datang - Ooowwh ituu...emangnya Reza liat dimana..?
Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sebenernya bukan "Gue Bangeeet" tapi untuk kasus ini saya perlu waktu untuk menyusun kata2 yang bisa dicerna anak umur 4,5 th dengan memberikan jawaban singkat dan tepat tanpa mengusik rasa ingin taunya yang sangat tinggi sehingga kemungkinan untuk berujung pada pertanyaan2 selanjutnya harus DITUTUP.
Thanks to the green light yang menyala saat dibutuhkan..sehingga perhatian teralihkan sementara tanpa upaya... Alhamdulillaah..
Saat jalanan mulai stabil, suara kecil menggemaskan yang tiba2 terdengar seperti petir menggelegar tadi mulai berbunyi lagi...
R : Bund...
A : Yaaa...??
R : Do you remember my question tadi..?
A : Yang mana...? - pura2 lupa -
R : Perkosa itu artinya apa..??
A : Oowh itu...artinya "paksa" nak...jadi diperkosa itu artinya "dipaksa"...jadi kita dipaksa melakukan sesuatu yang kita ga suka...
R : Jadi artinya Perkosa itu Paksa ya... ok, Reza jadi tau sekarang...thanks Bund...
Nada suaranya lebih ringan dan terdengar puas dengan jawaban yang dikasih Bunda. 

Sumpah rasanya legaaaa bangeet bisa memberikan jawaban dengan arti yang kurang lebih mewakili apa yang ditanyakan, setelah berpikir ekstra keras dan mencari2, walopun ga pas bangeet dan sebenarnya masih perlu penjelasan lebih lanjut...

Sampai di rumah Angku perjalanan cukup tenang tanpa ada kejutan2 "manis"  dari sang Pangeran tersayang anakku tunggal.

Beberapa minggu berlalu, sampai tiba2 di suatu sore yang santai neneknya yang adalah mamaku, memanggilku dengan tergesa dan heran...

A : Knapa Ma..?
Mama (M) : Kenapa tiba2 anak (maksudnya Reza) tau perkosa..? Darimana dia dapat kata2 itu..? Emang siapa aja teman2nya kok bisa sampai dia dapat kata2 itu..? dst...dst...dst..
A : - dengan agak bengong krn merasa ga ngerti dengan fokus pembicaraan selain kata "perkosa" dan apa darimana kenapa trus nanya lagi - Emangnya kenapa..? Ngomong apa emang anaknya..?
M : - masih dengan tergesa seakan menuntut penjelasan panjang lebar namun instan - Iyaaa itu tadi..mama suruh dia mandi tapi tiba2 Reza bilang "jangan perkosa Reza begitu dong..kan Reza bilang nanti..Reza kan ga suka diperkosa"...
A : - langsung nyambung dengan pembicaraan beberapa waktu lalu - *langsung ketawa kenceeeeng banget sebelum jelasin...
Setelah dijelasin panjang lebar, sang nenek ngangguk2 sambil ikutan ketawa...

Tapiiii....aku segera tersadar bahwa aku tidak menjelaskan dengan baik kepada sang Pangeran...
Segera setelah mandi, aku bicara panjang lebar tentang bagaimana penggunaan kata2 "perkosa" yang sesuai. Seperti biasa aku menggunakan kata2 "normal" dalam menjelaskan dengan sesekali mengonfirmasi pemahamannya dan memberikan ilustrasi2 yang dipahaminya....in time he will be in total understanding of our conversation.

Kejadian itu sudah berlalu lebih dari 3 tahun lalu. Sekarang, aku bersyukur sudah menjelaskan beberapa hal yang menurut sebagian orang tabu dibicarakan bahkan diberikan penjelasan.

*Bunda sayang banget sama Reza nak... tumbuhlah besar dalam raga dan jiwa, mudah2an kami, orang tuamu, mampu mengajarkanmu sesuai dengan aqidah dan jamanmu...

Kamis, 13 Maret 2014

Generation X, Y, and Zoomers...Apa sih bedanya..??

Pernah denger kata-kata kayak gini ga siiy...."Iya keles..., Ini tuh endes bingiiiit...,Woles broh..." keluar dari mulut ABG atau dalam pesan singkatnya...?? atau mungkin bahkan kita sendiri yang mengucapkannya..?
Bagi orang-orang yang berusia mulai pertengahan 30-an ke atas, kata-kata seperti itu mungkin sekali bukanlah kata-kata yang familiar...sehingga seringkali harus mengernyitkan dahi, sambil berpikir sedikit untuk menerjemahkannya menjadi kata-kata yang diterima otak kita...(pengalaman pribadi juga niih....hahahaa..).  Mungkin kondisi ini dulu pernah dialami oleh orang-orang tua kita dulu saat bahasa okem/prokem juga sering kita gunakan, semacam honger, bokap, nyokap... (jadi berasa kayak kena karma deh...*hadeeeh...)
Belajar dari perbedaan-perbedaan yang terjadi, ternyata masih banyak orang yang tidak menyadari pentingnya memahami perbedaan antar generasi.  Beberapa tahun yang lalu, cukup sering terdengar istilah Gen X dan Gen Y, dan terakhir juga Zoomer...tapi apa siih bedanya...dan kenapa itu penting untuk dipelajari..?

Kita coba dulu lihat satu persatu dari pembagian generasi yang ada...mulai dari Generation Y (Gen Y), generasi ini lahir antara 1980-an s/d akhir th 1999 (sebelum Millenium).  Ciri-ciri Gen Y ini antara lain adalah sangat kreatif, selalu "bergerak", ingin serba cepat, melek teknologi, suka dan memiliki gadget (tepatnya ga bisa lepas dan selalu update dengan versi terbaru), terlihat sebagai orang yang suka "having fun", terlihat tidak suka "diatur dan dengan peraturan", kelihatan kurang "hormat" kepada orang lain, terutama yang lebih tua, tidak ingin terikat.


Generation X (Gen X) adalah satu generasi di atas Gen Y yang lahir antara pertengahan th 1960-an s/d akhir th 1970-an.  Generasi ini seakan terjepit antara Gen Y dengan Zoomer. Ciri-ciri umumnya adalah suka mengambil resiko, cukup kreatif dalam batas-batas umum, berusaha meluangkan waktu untuk keluarga, tidak terlalu menyukai birokrasi yang bertele-tele, sering tidak mematuhi aturan, memikirkan "fasilitas dan benefit", bekerja keras untuk satu tujuan tertentu, lebih menyukai "work smart" daripada "work hard".


Generasi sebelum Gen X adalah Zoomers, yang lahir sekitar awal 1950 s/d pertengahan 1960-an.  Cukup mudah mengenali ciri-ciri Zoomers yang pekerja keras, taat aturan, cenderung bersikap "keras", berorientasi pada proses untuk mendapatkan hasil, cenderung belajar dari pengalaman, pemimpin yang "mengarahkan" namun tidak terlibat.
Dari keseluruhan ciri-ciri yang digambarkan oleh masing-masing generasi, jelas terlihat perbedaan.  Inilah yang secara tidak disadari sering menjadi hambatan dalam berkomunikasi.  Dengan bahasa dan perilaku yang berbeda, pemahaman juga akan berbeda.

Berikut beberapa tips komunikasi untuk mengurangi kesenjangan antara masing-masing generasi sesuai dengan ciri-ciri setiap generasi :
Berkomunikasi dengan Zoomers (orang-orang tua kita gitu yaaaa...) perlu memperhatikan beberapa hal seperti : ketepatan pengucapan dan struktur kalimat, bicaralah dengan memandang mereka karena itu menandakan kita menghormatinya.  Mereka lebih menyukai berbicara langsung atau melalui telepon daripada texting.  Mereka tidak suka dengan "bagaimana nanti aja..." namun justru bagi mereka yang harus dipikirkan adalah "nanti bagaimana...".  Bicaralah dengan hormat, hargai pengalamannya, gunakan kata-kata yang sopan dan tidak terlalu banyak melibatkan teknologi akan memuluskan komunikasi dengan para Zoomers.

Bagaimana dengan Gen X..?  Walaupun bukan termasuk kelompok yang "gaptek" namun penggunaan gadget yang terus menerus tidaklah suatu keharusan bagi mereka.  Komunikasi tidak harus selalu face to face atau melalui telepon untuk bicara langsung namun sebaiknya jangan mengharapkan balasan segera bila kita berkomunikasi dengan texting.  Gen X menyukai komunikasi melalui email karena dianggap dapat menjadi bukti atas perkataan dan perbuatan, mudah bersikap asertif dan mengutarakan perasaan mereka secara langsung.  Gen X belajar dengan tekun melalui buku, informasi, dan jalur formal lainnya yang sudah terjamin validitasnya.  Tidak perlu berbelit-belit bila berbicara dengan orang-orang Gen X, lakukan saja dengan cepat dan berikan bukti-bukti pendukung, maka komunikasi akan lancaaaarrr...

Hal-hal baru dan perkembangan yang cepat lebih banyak dijumpai dalam berkomunikasi dengan Gen Y.  Bila menginginkan jawaban segera, tidak perlu susah2 menelepon...ungkapkan saja melalui text/BBM/fasilitas chat pada sosial media yang mereka ikuti, dijamin langsung dapat balasan... Gunakan "bahasa" mereka agar mereka lebih mendengarkan Anda. Lakukan pendekatan yang friendly dan jelaskan tujuan dan harapan Anda secara terbuka serta berikan feedback positif.  Mereka senang dipuji, oleh karenanya sebelum Anda memberikan kritik maka Anda harus berikan pujian dulu agar mereka memperhatikan dan Anda memperoleh apa yang Anda inginkan (teknik sandwich in giving feedback).  Gen Y tidak suka suasana formal, justru mereka menyukai suasana fun dan lebih banyak belajar melalui permainan dan teknologi.  Sehingga tidak perlu heran dengan gadget yang selalu menempel di tangan mereka, seakan-akan ada lem yang sangat kuat, karena itulah media belajar dan bermain mereka.  Saran saya dalam berkomunikasi dengan Gen Y : jadilah temannya...baik di dunia nyata maupun di dunia maya...karena hanya dengan begitu Anda memahami dunianya secara utuh (apalagi bila si Gen Y ini adalah anak Anda...) dari pada susah-sudah memintanya untuk bercerita kepada Anda mengenai apa yang dilakukannya seharian.

Kembali saya ingatkan bahwa esensi komunikasi adalah pemahaman...berbicara dan mendengarkan adalah prosesnya... Jadi, bila kita saling memahami, segalanya akan menjadi lebih indah dan hubungan mulus tanpa hambatan...
Selamat berkomunikasi dan saling memahami Zoomers - Gen X - Gen Y :)


*diadaptasi dari seminar sehari How To Make Generations X, Y, and Zoomers Happy and Productive at Work yang dibawakan oleh Cheryl Cran, CEO TMI Canada, 31 October 2013 di Hotel InterContinental MidPlaza - Jakarta

Minggu, 31 Mei 2009

JANGAN JADI GELAS

"Hati" kita sesungguhnya tiada berbatas, kitalah yang membuat pembatasnya. "Hati" kita sesungguhnya tiada merasa, kitalah yang membuat rasa padanya, sehingga muncullah sedih, marah, kecewa. "Hati" kita tidaklah dapat tergores kecuali bila kita mengizinkan orang lain menggoresnya atau kita sendiri yang membuat goresan itu.

Suamiku pernah "mengingatkan" aku tentang hal di atas pada saat aku merasakan sesuatu yang "sangat" dengan hatiku, entah itu sangat marah, sangat kecewa, sangat sedih, dan sangat sangat lainnya. Ternyata menjaga hati memang susah ya..... (*N*)

________________________________________________________________

JANGAN JADI GELAS

Ditulis pada Desember 16, 2007 oleh Muhammad Yasrif


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.

“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya.

Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.

Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.

Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

Dan...bila danau pun belum cukup luas untuk kita, artinya kita harus menjadikannya seluas samudra..